Khazanah Islam

Bisnis Sesuai Prinsip Syariah Islam Lebih Nyaman

Islam, sebagai agama yang mencakup segala aspek kehidupan, menetapkan tatanan yang adil dalam segala hal, termasuk jual beli. Keadilan ini diwujudkan sebagai rahmat Allah kepada umat manusia, memungkinkan mereka menjalani hidup dengan harmoni hingga akhir zaman.

Ketentuan ini tidak hanya melestarikan komunitas manusia, tetapi juga memupuk hubungan saling ketergantungan antara sesama. Bagaimanakah jual beli yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW?

Dalam kajian global ini, kita akan menjelajahi pokok-pokok kaidah dalam jual beli menurut ajaran Islam, dengan memberikan gambaran rinci yang diperlukan.

Pengertian Jual Beli dalam Islam

Secara sederhana, jual beli adalah pertukaran harta dengan harta. Dalam konteks syariah, jual beli didefinisikan sebagai pertukaran atau pemilikan harta berdasarkan kesepakatan dan ridha antara penjual dan pembeli, sesuai dengan cara yang diakui oleh agama.

Hukum dan Prinsip Jual Beli dalam Islam

Prinsip dasar jual beli dalam Islam adalah diizinkannya, kecuali jika ada bukti yang mengharamkannya. Kebolehan ini didasarkan pada Al-Qur’an, hadis, dan kesepakatan ulama. Hukum asal jual beli adalah halal dan mubah (boleh), menunjukkan pentingnya kegiatan ekonomi dalam masyarakat.

Dalam Islam, etika dan integritas sangat ditekankan dalam jual beli. Prinsip-prinsip seperti kejujuran, transparansi, dan saling menghormati harus dipegang teguh. Dalam setiap transaksi, para pihak diharapkan untuk menjaga kepentingan bersama dan menghindari penipuan atau ketidakadilan.

Dengan menjalankan prinsip-prinsip ini, jual beli dalam Islam bukan hanya sekadar pertukaran materi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan berpegang pada panduan Rasulullah SAW dan ajaran agama, umat Islam dapat menjalani aktivitas ekonomi yang adil, bermanfaat, dan berberkah.

Dalil dari Al-Qur`an di antaranya firman Allah Swt:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (Al-Baqarah: 275)

Adapun hadits, di antaranya sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya jual beli itu dengan sama-sama ridha.” (HR. Ibnu Majah no. 2185, dari Abu Sa’id Al-Khudri z,, dari jalan Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari Dawud bin Shalih Al-Madani, dari ayahnya, dari Abu Sa’id. Sanadnya shahih, lihat Al-Irwa` 1283)

Para ulama di sepanjang masa dan di belahan dunia manapun telah sepakat tentang bolehnya jual beli. Bahkan ini merupakan kesepakatan segenap umat, sebagaimana dinukil oleh Al-Imam An-Nawawi.

Syarat-syarat Jual Beli
Jual beli dianggap sah secara syar’i bila memenuhi beberapa persyaratan berikut:

  1. Keridhaan kedua belah pihak (penjual dan pembeli).
  2. Yang melakukan akad jual beli adalah orang yang memang diperkenankan menangani urusan ini.
  3. Barang yang diperjualbelikan harus halal dan ada unsur kemanfaatan yang mubah.
  4. Barang yang diperjualbelikan dapat diserahterimakan.
  5. Akad jual beli dilakukan oleh pemilik barang atau yang menggantikan kedudukannya (yang diberi kuasa).
  6. Barang yang diperjualbelikan ma’lum (diketahui) dzatnya, baik dengan cara dilihat atau dengan sifat dan kriteria (spesifikasi)-nya.

Related Articles

Back to top button