Kids

Melatih Kemandirian Anak Autis Sebelum Memasuki Sekolah

Menghadapi tantangan dalam merawat anak dengan spektrum autisme (autis) memang memerlukan pemahaman dan pendekatan khusus. Salah satu fase kritis dalam perjalanan anak autis adalah mempersiapkannya untuk memasuki lingkungan sekolah. Namun, sangat penting untuk melatih kemandirian anak autis sebelum memasukkannya ke sekolah, agar mereka mampu mengatasi situasi dengan lebih baik. Ini akan memberikan manfaat jangka panjang dalam pembentukan karakter dan perkembangan pribadi mereka. Menurut Gayatri Pamoedji, Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI), fokus utama haruslah pada kemandirian, bukan hanya akademis semata.

Kebanyakan orangtua sering kali terjebak dalam mencoba memberikan anak autis mereka pendidikan formal dengan cepat, tanpa memperhatikan kesiapan kemandirian mereka. Alih-alih membantu, hal ini justru membuat guru dan teman-teman di sekolah kesulitan dalam membantu anak autis tersebut. Oleh karena itu, melatih kemandirian anak autis sebelum memasuki lingkungan sekolah adalah langkah penting.

Gayatri Pamoedji menekankan beberapa kesiapan yang harus dimiliki anak autis sebelum memasuki sekolah:

  • Patuh: Anak autis perlu belajar tentang patuh terhadap instruksi dan aturan.
  • Berinteraksi di Depan Kelas: Anak harus mampu memperkenalkan diri di depan kelas.
  • Disiplin dalam Berbaris: Kemampuan untuk berbaris adalah aspek penting dalam lingkungan sekolah.
  • Sikap yang Tenang saat Duduk di Lantai: Kemampuan untuk duduk bersila di lantai dan tenang adalah keterampilan yang berharga.
  • Makan dan Minum dengan Bantuan Minimal: Anak harus belajar untuk makan dan minum dengan sedikit bantuan.
  • Menggunakan Toilet: Kemampuan menggunakan toilet sendiri adalah penting.
  • Berjalan Bersama dengan Teman: Anak perlu mampu berjalan bersama teman lain.
  • Minta Bantuan jika Kesulitan: Anak harus tahu bagaimana meminta bantuan dari guru jika menghadapi kesulitan.

Dalam mengatasi autisme dan membantu anak autis mencapai kemampuan mandiri, Gayatri menyoroti tiga pilar utama: diagnosa tepat, pendidikan yang tepat, dan dukungan yang kuat. Menurutnya, sebagai orangtua, jangan hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga identifikasi bakat khusus anak. Membangun kemandirian dan melatih bakat anak adalah kunci dalam membantu mereka mencapai potensi terbaiknya.

Gayatri juga menegaskan bahwa terapi autisme tidak harus mahal dan mewah. Kunci utamanya adalah mengembangkan kemampuan komunikasi anak. Terapi dasar autisme yang harus dijalani meliputi:

  • Terapi Perilaku (Applied Behavioral Analysis): Membantu anak untuk menjadi lebih patuh terhadap instruksi.
  • Terapi Okupasi: Melatih keterampilan motorik halus yang penting dalam kemandirian, seperti menulis atau memegang benda kecil.
  • Terapi Wicara: Membantu anak autis dalam berkomunikasi.
    Baru setelah anak menguasai tiga terapi dasar ini, pertimbangkan terapi relaksasi seperti terapi dengan lumba-lumba. Jadi, penting untuk memahami bahwa membangun kemampuan kemandirian dan komunikasi adalah landasan utama dalam membantu anak autis berkembang secara optimal.

Dengan penuh dukungan dan pemahaman, kita dapat membantu anak-anak autis meraih potensi mereka dengan lebih baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut Wawancara dengan Gayatri

Perjuangan menangani anaknya sendiri yang menderita Autis membuat Gayatri menekuni bidang tersebut. Ia mendirikan MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia), membuat berbagai seminar dan video penanganan dini Autis yang disebarluaskan gratis. berikut dikutip dari wawancara tabloid Nova  dengan Gayatri

Kepedulian Anda pada masalah Autisme sangat tinggi, bagaimana awal mulanya ?
Tahun 1990 anak pertama saya, Audwin Trito atau biasa dipanggil Ananda, lahir melalui proses vacuum extractie. Saya pun mengalami patah tulang ekor saat melahirkan dia dan dokter baru mengetahui sekitar sebulan setelahnya. Saat usia Ananda 18 bulan, dia tidak mau kontak mata. Saya bingung kenapa bisa begitu, hingga konsultasi ke beberapa dokter ahli. Katanya, tidak apa-apa. Mungkin hanya karena masih terlalu kecil. Tapi hingga usianya tiga tahun Ananda tidak juga bisa bicara. Saya pegang selalu menolak, dipanggil tidak menengok, kelakuannya juga hiperaktif.

Saya merasa ada sesuatu yang salah pada anak Ananda. Pemeriksaan menyeluruh sudah dilakukan, tetap tidak ditemukan apa-apa. Dokter malah bilang, karena ibunya wanita karier anaknya jadi kurang perhatian dan kurang kasih sayang. Terus terang saya kesal dikatakan begitu. Saat itu saya memang berkarier sebagai direktur keuangan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang hotel dan restoran di Jakarta, dan juga mengajar di Universitas Sahid. Tetapi tidak berarti saya menelantarkan anak saya, kan.

Apa upaya Anda selanjutnya ?
Berulangkali saya bawa Ananda ke dokter, tetapi hanya dibilang terkena virus tanpa diberitahu apa dan bagaimana pengobatannya. Saya terus mencari informasi, membaca banyak buku soal terapi anak-anak kelainan. Di usia 4 tahun Ananda diperiksa di Sydney dan divonis mengalami keterlambatan bicara (language delayed).

Pulang ke Jakarta Ananda mulai masuk TK. Tetap saja dia tidak tertarik berinteraksi. Satu-satunya objek yang diperhatikan Ananda adalah mobil. Saya sampai tempel stiker mobil-mobilan di kening saya selama tiga bulan, supaya dia mau kontak mata dengan saya. Dua tahun berlalu, kelainan Ananda makin terlihat. Dia tak juga mau bicara, tak mau berada dalam kelas, bahkan menangis tiap digantikan baju. Wah, gurunya pun sampai kewalahan. Dia hanya mau lari berputar-putar terus, hingga harus ganti baju 11 kali dalam sehari. Pernah juga sekali waktu, saat dalam pesawat menuju Belanda, Ananda hampir membuka pintu exit pesawat.

Sempat putus asa menghadapi semua itu ?
Tentu. Saya berusaha menganggap itu cobaan yang harus dihadapi. Tapi disisi lain saya merasa ini tidak fair. Banyak orang yang jelas-jelas menelantarkan anaknya, tapi toh mereka sehat-sehat saja. Sementara saya yang sejak mengandung betul-betul menjaganya, kok jadinya begini. Saya frustasi dan putus asa. Saya selalu bertanya-tanya, ‘apa salah saya?’

Syukur saya punya keluarga dan teman-teman yang baik. Saya percaya Tuhan punya skenario sendiri dalam hidup saya. Mungkin saja kalau Ananda tidak dilahirkan seperti itu, saya sudah jadi orang yang sombong. Sejak kecil saya hidup berkecukupan dan mudah mendapatkan apapun. Nah, dari situ saya sadar bahwa hal sekecil apapun harus kami syukuri.

Anda juga sampai pindah ke luar negeri demi pengobatan anak, ya?
Ya, di tengah kebingungan, saya dengar di Australia ada sekolah yang bisa menangani anak-anak seperti itu. Tahun 1996 saya dan Ananda berangkat ke sana, tapi ternyata sekolah itu terlalu penuh. Kami mengikuti empat macam terapi di Australia selama tiga bulan, yaitu speech, okuvasi, akademis, dan matematis. Para terapis di sana melihat kelainan Ananda sebagai ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau hiperaktif.

Mengigat masa terapi harus continue, saya dan suami memutuskan menetap di Australia mulai 1997. Ananda masuk ke sebuah sekolah umum dekat rumah yang jumlah muridnya lebih sedikit. Saya ikut mengajar di sana sebagai guru pendamping. Selain itu, karena ingin belajar banyak tentang anak-anak yang mengalami kelainan, saya sekolah selama setahun di TAFE College, Australia, mengambil Special Needs Children.

Bagaimana kemudian saat putra Anda divonis menderita Autis ?
Saat Ananda usia 9 tahun, saya bertemu Jura Tender, seorang psikolog senior dan ahli autisme di Australia. Dengan galaknya beliau bilang, Ananda menderita Autis dan saya sudah sangat terlambat menanganinya. Saya betul-betul kaget, syok dan marah. Saya toh sudah berusaha setengah mati, rela pindah negara dan mengikuti terapi demi Ananda. Saya bilang dalam hati, beliau boleh memvonis terlambat, tetapi saya adalah ibunya. Saya tahu apa yang bisa saya lakukan untuk anak saya. Dan insting saya sebagai seorang ibu saat itu mengatakan, saya yakin bisa.

Related Articles

Back to top button